ALL

Jangan Sebut ‘Crisis Center’, Tapi ‘Bali Tourism Hospitality’

By  | 
Menteri Pariwisata Arief Yahya | Foto: Istimewa

Menteri Pariwisata Arief Yahya | Foto: Istimewa

KedaiPena.Con – Menpar Arief Yahya memastikan suasana Pulau Dewata Bali betul-betul aman. Dia berkunjung hingga ke Pura Besakih, yang jaraknya hanya 9 km dari pusat erupsi Gunung Agung. Daerah “merah” hingga radius 12 km yang sudah harus dikosongi.

Dari pura terbesar di Bali yang berketinggian 950 meter di atas permukaan laut itu tinggal 2085 meter lagi sampai puncak kaldera gunung, yang persis di belakangnya.

“Ikuti saran dan anjuran pemerintah, itu yang terbaik,” jelas Arief Yahya, Menpar RI.

Fenomena alam ini, kata Menpar Arief, tidak ada yang bisa memprediksi. Juga belum ada teknologi yang bisa menjangkau, untuk memastikan waktu, jam, dan tanggal erupsi. Ditandai dengan tremor, getaran atau gempa kecil yang hitungannya hanya menit dan jam.

“Karena itu, instruksi Pak Gubernur sudah betul, di radius 12 km itu harus dikosongkan,” kata Arief Yahya.

Pasca penetapan status Awas di Gunung Agung, Karangasem, Bali, Kementerian Pariwisata seperti tak pernah berhenti memantau perkembangan menit per menit. Menpar Arief Yahya bahkan terjun langsung memantaunya sampai ke Pura Besakih.

Dalam kunjungannya, Menpar Arief Yahya didampingi Staf Khusus Bidang Komunikasi, Don Kardono, Kepala Dinas Pariwisata Bali, A.A Agung Yuni Budhiarta, Wakil Bupati Karangasem I Wayan Arta Dipa, dan ketua STP Bali Dewa GN Byomantara.

Menpar Arief Yahya pun meminta masyarakat melalui agar mengikuti setiap imbauan yang dikeluarkan lembaga pemerintah yang berwenang. Sedangkan untuk wisatawan, Menpar menyampaikan pesan agar tidak khawatir karena pemerintah sudah mempersiapkan rencana penanganan terhadap segala kemungkinan bencana.

“Crisis center-nya sudah dibuat diketuai oleh Pak Gubernur Bali. Karena ini di Bali, ikon pariwisata Indonesia, maka istilah Crisis Center itu diganti dengan Bali Tourism Hospitality. Harus satu pintu (informasinya). Beritanya nggak boleh simpang siur,” kata Menpar Arief Yahya, Kamis (5/10).

Selain itu, Menpar juga mengganti istilah “evakuasi” dengan “mengantarkan.” Untuk memberi aksen pariwisata.

“Biar tidak berkesan seram. Kita semua bergerak, dan mempersiapkan segala risiko yang bisa terjadi,” ungkapnya.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah memimpin pembentukan #BaliTourismHospitality, berkoordinasi dengan pelaku pariwisata di Bali. Tim ini untuk memberi informasi kepada pelaku pariwisata ini sudah mulai berjalan sejak minggu lalu.

“Yang pertama kita harus menimbulkan rasa aman buat masyarakat sekitar Gunung Agung. Begitu juga untuk wisatawan, customer kita, segala sesuatunya sudah disiapkan untuk keamanan mereka juga,” jelas Menpar Arief Yahya.

Laporan: Muhammad Ibnu Abbas

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *