ALL

Genjot ‘Double Digit’ Dulu, Baru ‘Holiday Economics’

By  | 
Ilustrasi | Foto: Istimewa

Ilustrasi | Foto: Istimewa

SUATU waktu begawan ekonomi Rizal Ramli berkata. Ia bilang, Indonesia terlalu banyak libur. Sejenak saya termenung, kenapa Rizal Ramli bilang terlalu banyak libur?.

Tak lama kemudian, RR, sapaan Rizal Ramli melanjutkan ceritanya. Ia mengaku salah. Sontak saya menjadi bertanya-tanya dalam hati. Apa maksudnya lagi?. Terlalu banyak libur, ia mengaku salah?.

Sudahlah. Waktu berlalu dan waktunya saya mencicipi kopi hitam yang masih hangat. Tapi, tak lama, layar smartphone saya bunyi. Ting. Pesan baru masuk dari Rizal Ramli.

“Sepuluh tahunan lalu, saya makan dengan seorang pejabat tinggi. Saya bercerita kalau baru saja selesai baca buku tentang bagaimana PM Zho Rong Ji genjot ekonomi China tumbuh menjadi double digit,” begitu pesan yang terbaca pada tampilan teratas.

“Dia (baca: pejabat tinggi) tertarik ingin baca bukunya. Saya bilang, kalau baca buku bagus, saya biasa garisbawahi. Pada Chapter 5 yang ulas tentang ‘Holiday Economics’, mengungkapkan bahwa liburan harus diperbanyak, supaya konsumsi lebih tinggi,” lanjut pesan yang muncul di layar ‘smartphone’ saya.

“Seminggu kemudian, pejabat tersebut buat rapat dengan menteri-menteri untuk koordinasi yang membahas kebijakan perbanyak liburan, termasuk hari kejepit,” ungkap Rizal Ramli.

Tapi ada satu yang luput dari cerita Rizal Ramli kepada pejabat tinggi itu tersebut. Bab-bab sebelumnya dari buku yang mengungkap keberhasilan PM Zho Rong Ji genjot ekonomi China ke ‘double digit’, tidak dibaca.

“Sayang, bab-bab sebelumnya yang menopang kebijakan ‘Holiday Economics’ itu tidak dijalankan. Seperti, menggenjot pertumbuhan, pendapatan, produktifitas, infrastruktur dan sebagainya,” lanjut RR.

“Jadi, ekonomi masih dibawah 6 persen, pendapatan dan produktifitas masih rendah, tapi liburan sudah terlalu banyak,” kata Rizal Ramli sembari meminta maaf di akhir.

Karena rakyat memang perlu kerja produktif pejabat untuk masa depan Indonesia yang lebih baik

Oleh Agus Priyanto, peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *