ALL

Bantah Omongan Jokowi, DPR: Penurunan Daya Beli Benar Adanya

By  | 
Seorang pedagang di Pasar Cibodas, dekat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menjajakan barang dagangannya | Foto: Rara Ar Rayyan/KedaiPena.Com

Pedagang di Pasar Cibodas, dekat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menjajakan barang dagangannya | Foto: Rara Ar Rayyan/KedaiPena.Com

KedaiPena.Com – Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR Hafisz Thohir menilai pernyataan Presiden Joko Widodo soal isu penurunan daya beli dilontarkan oleh kepentingan-kepentingan politik sangat tidak tepat.

Pasalnya, kata Hafisz, penurunan daya beli yang dialami masyarakat saat ini benar adanya. Hal itu, dapat dilihat dari sejumlah sektor-sektor industri yang sedang melemah.

“Dari laporan ‘showroom’ mobil, pasar yang sedang lesu-lesunya. Harga-harga komoditas makanan juga naik. Silakan lihat sendiri di Alfamart dan lain-lain,” ujar Hafisz kepada KedaiPena.Com, Kamis (12/10).

Dengan kondisi demikian, Hafisz menilai, Pemerintah harus mulai fokus mengalihkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kepada sektor-sektor produktif yang dapat menggerakkan ekonomi rakyat.

“Solusi perbaiki APBN agar pembiayaan anggaran hanya kepada sektor produktif saja, yang dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan. Serta industri yang  strategis dan berpihak kepada atau pro tenaga kerja,” imbuh Hafisz.

Hafisz menegaskan industri-industri serta sektor ekonomi kerakyatan tersebut memiliki porsi 50 persen terhadap pemasukan uang negara. Sehingga sangat penting bagi pemerintah untuk masuk ke sektor tersebut.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini bahkan meyakini bila memang pemerintah sudah menyentuh industri-industri strategis dan sektor ekonomi kerakyatan, target pertumbuhan 5,5 persen pasti akan terwujud.

“Harus menyentuh industri yang menghidupi hidup orang banyak. Misalnya yang banyak buruhnya, yang banyak keterlibatan pihak pihak lain sebagai penopang (warteg, restoran, jasa travel, jasa boga). Kalau, ekonomi kerakyatan itu misalnya pengusaha tahu tempe, bengkel motor dan mobil kecil-kecilan, bisnis ritel, jasa boga dan warung-warung kecil,” tandas Hafisz.

Laporan: Muhammad Hafidh

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *